Setiap pagi, setelah cukup kuat mengumpulkan nyawa dari sisa-sisa mimpi, hal yang pertama kulakukan adalah berdiri di depan cermin panjang yang kupajang tepat di samping ranjang.
Aku berharap menemukan seseorang yang baru, yang sesuai dengan mimpiku.
Aku tak bermimpi menjadi cantik,
Tak bermimpi menjadi cerdik,
Juga tak bermimpi menjadi yang paling baik.
Ah, tak perlu. Kadang-kadang yang terbaik malah harus menelan pilu, kan?
Aku hanya berharap menjadi seseorang yang bisa diterima,
Sehingga aku cukup kuat untuk percaya bahwa aku dicintai, oleh Tuhan, Ibu, Kelawaiku*, Handai Taulan, juga semua yang mampu kupandang ketika nafas masih panjang.
Tapi yang kutemui, tetaplah aku.
Bukan apa-apa untuk mereka yang kuharap menginginkanku.
Bukan pula aku, yang bisa kuakui sebagai aku.
Aku hanya serpihan kecil nyaris abstak.
Yang rindu, menjadi bongkahan batu berlian kasat mata, yang diburu.
Ah, aku rindu, menjadi aku, yang diinginkanku...
Aku berharap menemukan seseorang yang baru, yang sesuai dengan mimpiku.
Aku tak bermimpi menjadi cantik,
Tak bermimpi menjadi cerdik,
Juga tak bermimpi menjadi yang paling baik.
Ah, tak perlu. Kadang-kadang yang terbaik malah harus menelan pilu, kan?
Aku hanya berharap menjadi seseorang yang bisa diterima,
Sehingga aku cukup kuat untuk percaya bahwa aku dicintai, oleh Tuhan, Ibu, Kelawaiku*, Handai Taulan, juga semua yang mampu kupandang ketika nafas masih panjang.
Tapi yang kutemui, tetaplah aku.
Bukan apa-apa untuk mereka yang kuharap menginginkanku.
Bukan pula aku, yang bisa kuakui sebagai aku.
Aku hanya serpihan kecil nyaris abstak.
Yang rindu, menjadi bongkahan batu berlian kasat mata, yang diburu.
Ah, aku rindu, menjadi aku, yang diinginkanku...
ps: *saudara perempuan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar