Sesalkah?

Aku tak lagi punya jalan!
Sekarang kau sudah benar-benar hilang.
Tanda semuanya percuma.
Mengapa harus begini akhirnya?















Aku yang hanya sisa sia-sia ini belajar tabah.
Mengemis pada Tuhan dalam setiap jumputan doa,
Meminta agar yang telah terberi tak mubazir,
biar nanti, air mata ini bisa berhenti banjir.

Rinduku yang entah dimana,
Meski kehilanganmu telah mengajarku banyak ketabahan
Aku masih setia pada satu harapan.
Semoga nanti, di suatu saat yang tepat,
Tuhan mengembalikan hatimu,
Membuatmu sekerasnya berusaha
Menjadikan milikku yang telah pernah mennjadi milikmu,
Milikmu yang telah pernah menjadi milikku,
Selamanya akan menjadi milik kita...

Keputusan



Hari ini saya memutuskan,...
Mengakhiri semua yang rasanya sudah membuat tak nyaman.
Meninggalkan semua yang mungkin berkesan takkan hilang.

Saya tahu mungkin selamanya akan merindu masa itu.
Tapi sudahlah, semua sudah lalu.
Toh, lambat laun juga akan habis dihantam waktu.

Kadang tak butuh waktu lama untuk memutuskan.
Walaupun yang harus kita simpulkan adalah bagian terpenting dalam hidup.

Secangkir Kopi Pagi Hari

"Entah mengapa sekarang semuanya harus ku ingat lagi.
Padahal bukanlah hal penting sebelum beberapa bulan hitungan ke belakang sejak hari ini."

Dulu sekali, di hari minggu pagi.
Kita bukanlah pasutri, bahkan tak terpikir dan tak ingin menjadi.
Tapi saat aku bangun pagi, aku sudah didihkan air menyeduhkanmu kopi.
Setelah kau minum, kita pergi, berdua saja.
Membeli sesuatu sebagai pelengkap nasi untuk siang nanti.



Ah, entah mengapa aku ingin hal itu terulang lagi.
Setiap pagi, bukan hanya hari minggu.
Aku berharap, akulah yang akan selalu menyeduhkanmu kopi....
Tapi mengapa yang kuterimah hanyalah tumpukan rindu?