Secangkir Kopi Pagi Hari

"Entah mengapa sekarang semuanya harus ku ingat lagi.
Padahal bukanlah hal penting sebelum beberapa bulan hitungan ke belakang sejak hari ini."

Dulu sekali, di hari minggu pagi.
Kita bukanlah pasutri, bahkan tak terpikir dan tak ingin menjadi.
Tapi saat aku bangun pagi, aku sudah didihkan air menyeduhkanmu kopi.
Setelah kau minum, kita pergi, berdua saja.
Membeli sesuatu sebagai pelengkap nasi untuk siang nanti.



Ah, entah mengapa aku ingin hal itu terulang lagi.
Setiap pagi, bukan hanya hari minggu.
Aku berharap, akulah yang akan selalu menyeduhkanmu kopi....
Tapi mengapa yang kuterimah hanyalah tumpukan rindu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar